Redaksi, MITRAJATIM.COM - Sebagai seorang ayah untuk anak-anaknya, kita sering bertanya-tanya dalam hati, “Apakah saya bisa membesarkan, menyekolahkan, dan memberikan yang terbaik untuk mereka?”Pertanyakan itu terus bergelimang dibenak seorang ayah.
Pertanyaan itu tidak hanya muncul sesekali, tetapi datang silih berganti, terutama ketika datangnya malam dan saya sedang sendiri, ketika melihat kebutuhan anak-anak yang terus bertambah dari waktu ke waktu, dan membimbingnya dalam kebaikan.
Pertanyaan itu muncul mengingat usia saya yang tidak lagi muda. Saya sudah berusia di atas 55 tahun. Pada usia ini, saya mulai merasakan bahwa tenaga tidak sekuat dulu, dan daya tahan tubuh juga tidak seperti saat masih berusia 20-an tahun.
Hal-hal yang dulu bisa saya lakukan tanpa berpikir panjang, sekarang kadang perlu perhitungan dan istirahat yang cukup untuk menenangkan diri dan berfikir lebih jauh.
Namun, tetap saja ada kekhawatiran tersendiri, karena kesehatan adalah modal utama dalam mencari nafkah dan menjalankan peran sebagai kepala keluarga.
Secara ekonomi, keluarga kami bisa dikatakan hidup pas-pasan, dan sekarang ini ekonomi sedang tidak baik baik saja.Saya bekerja sebagai penulis warta dengan pendapatan yang tak menentu.
Penghasilan tersebut memang cukup untuk kebutuhan dasar, tetapi sering kali terasa sempit ketika dihadapkan dengan berbagai kebutuhan tambahan yang tidak bisa dihindari.
Dengan penghasilan yang pas-pasan, sebagai kepala rumah tangga saya harus berjuang untuk mencari pendapatan lain. Misalnya dengan menulis dan berkarya.
Aktivitas ini bukan hanya untuk menambah penghasilan, tetapi juga menjadi cara agar saya tetap produktif di luar profesi. Walaupun hasilnya belum besar, setidaknya bisa membantu menutupi beberapa kebutuhan kecil keluarga.
Tinggal di kota dengan 2 anak membuat pengeluaran keluarga cukup besar. Dulu orang tua selalu mengingatkan agar kami harus bijak mengelola uang demi menyekolahkan anak-anak.
Pesan itu baru saya sadari sekarang, ternyata pengeluaran untuk anak memang sangat terasa, apalagi jika jumlahnya lebih dari satu. Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, dan semuanya membutuhkan perhatian yang tidak sedikit.
Pengeluaran anak seperti biyaya pendidikan serta kebutuhan lainnya sering kali datang bersamaan tanpa bisa ditunda, dan itu suatu keharusan.
Belum lagi kebutuhan pokok yang semakin mahal dari tahun ke tahun. Sekolah bukan hanya soal SPP, tetapi juga buku, seragam, kegiatan tambahan, dan berbagai iuran yang kadang muncul di luar perkiraan.
Syukurnya, anak kami masuk ke sekolah negeri sehingga pengeluarannya lebih kecil dibandingkan jika harus masuk sekolah swasta. Namun, namanya sekolah negeri di kota.
Tentu biaya akan semakin membengkak. Saat ini saja sudah terasa cukup berat, apalagi jika kebutuhan pendidikan meningkat seiring jenjang sekolah mereka. Hal ini membuat saya berpikir panjang setiap kali harus mengambil keputusan keuangan.
Mungkin karena itu banyak orang di zaman sekarang memilih untuk tidak memiliki anak lebih dari dua. Karena biaya hidup yang semakin besar, pendidikan yang mahal, serta tuntutan hidup di kota yang semakin kompleks. Membesarkan anak bukan hanya soal cinta dan kasih, tetapi juga soal kesiapan finansial dan mental yang kuat.
Meskipun demikian, saya tidak pernah menyesal. Saya sangat bersyukur memiliki mereka. Mereka menjadi penyemangat dalam hidup saya.
Ketika lelah bekerja atau menghadapi tekanan hidup, melihat mereka bermain dan tertawa sering kali menjadi penghibur yang tidak tergantikan.
Namun kadang saya berpikir lagi, dengan pekerjaan, penghasilan, usia, dan kondisi kesehatan saya, apakah anak-anak dapat mencapai cita-citanya?
Pertanyaan ini tidak selalu membawa kecemasan, tetapi lebih sebagai dorongan untuk terus berusaha lebih baik, meskipun dalam keterbatasan.
Bukan hanya pendidikan, tanggung jawab seorang ayah dalam adat dan budaya yang saya pahami juga mencakup memastikan anak-anak dapat tumbuh, mandiri, dan pada akhirnya menikah serta membangun kehidupan mereka sendiri. Walaupun zaman sudah berubah, tanggung jawab moral itu tetap terasa di pundak seorang ayah.
Saya tidak pesimis, tetapi sebagai seorang ayah saya harus berpikir jangka panjang. Saya tidak bisa hanya fokus pada hari ini, tetapi juga harus memikirkan bagaimana kondisi anak-anak pada sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan. Perencanaan hidup menjadi bagian penting dari peran seorang kepala keluarga.
Mungkin apa yang saya alami juga menjadi renungan bagi sebagian ayah yang lain. Bahkan, bisa jadi banyak para ayah lain memiliki pemikiran yang lebih berat dari saya. Mungkin karena ekonomi yang lebih sulit, kesehatan yang lebih buruk atau tekanan hidup yang tidak terlihat dari luar.
Akan tetapi saya ingin mengatakan bahwa seorang ayah, meskipun tampak biasa-biasa saja, sering kali menyimpan beban yang tidak terlihat.
Di dalam dada mereka ada kecemasan, harapan, dan keinginan kuat agar anak-anaknya bisa hidup lebih baik daripada dirinya sendiri. Tidak semua ayah pandai mengungkapkan hal itu dengan kata-kata.
Sebab kebanggaan seorang ayah bukan terletak pada pencapaiannya sendiri, tetapi apabila anak-anaknya bisa lebih sukses dan lebih bahagia dibandingkan dirinya. Itu menjadi ukuran keberhasilan yang sering kali tidak tertulis, tetapi sangat dalam dirasakan.
Mungkin seorang ayah tampak dingin terhadap anak-anaknya, tidak terlalu banyak berbicara atau menunjukkan emosi secara terbuka. Namun, dari dalam hatinya, ayah tersebut sungguh merindukan kehangatan bersama anak-anaknya. Ia merasa bahagia ketika melihat anak-anaknya tumbuh sehat, tertawa, dan memiliki masa depan yang baik.
Saya sendiri merasa hubungan saya dengan ayah saya dulu juga kurang akrab. Barangkali ayah saya pun mengalami hal yang sama, sehingga pola itu seperti berulang dari generasi ke generasi. Banyak laki-laki tumbuh dengan cara menahan emosi dan tidak terbiasa mengungkapkan perasaan secara langsung.
Seorang laki-laki tampaknya sering tertutup dalam mengungkapkan perasaannya secara langsung. Namun saya yakin, di balik sikap diam itu, ada seonggok harapan agar anak-anaknya hidup bahagia dan tidak mengalami kesulitan seperti yang pernah ia alami.
Kesuksesan seorang anak sering kali juga dirasakan sebagai kesuksesan seorang ayah. Bukan dalam bentuk materi semata, tetapi dalam bentuk kebahagiaan batin yang sulit dijelaskan. Harapan itulah yang membuat seorang ayah terus bertahan, meskipun hidup tidak selalu mudah.
Apakah si anak mengerti hal itu"? walau si ayah meronta dan menangis dalam batinnya, si ayah merupakan sosok yang kuat menanggung beban yang disandangnya. Si ayah terus berdoa dan bermunajad pada yang kuasa, berharap anak anaknya bisa bahagia dan terlepas dari kesulitan dimasa - masa mendatang. (Redaksi -MJ)



Terimakasih atas tanggapan dan komentar anda, kami team Redaksi akan menyaring komentar anda dalam waktu dekat guna kebijakan komonikasi untuk menghindari kata kata kurang pantas, sara, hoax, dan diskriminasi.
Dalam jangka waktu 1x24 jam segera kami balas
Kami tunggu saran dan kritikannya, salam !!!