Artsubs Pertemukan Seniman Berdaya Jual Tinggi dengan Pendatang Baru

PIMRED
Publiser ~
0
SURABAYA, MITRAJATIM.COM -
: Pemilihan seniman peserta pameran Artsubs mempertimbangkan aspek objektif sekaligus subjektif. Yaitu dengan mempertemukan seniman yang telah mapan dan memiliki daya jual tinggi—seperti Eko Nugroho—dengan seniman pendatang baru yang memperoleh kesempatan melalui mekanisme open call. Dengan demikian, ARTSUBS berupaya mempertemukan rekam jejak, kualitas artistik, potensi pasar, dan regenerasi dalam satu ruang pamer.

Asmujo Jono Iranto, salah satu kurator Arstubs, menyampaikan hal itu dalam forum diskusi Wicara Kurator yang diselenggarakan oleh manajemen Artsubs di selasar lantai 2 Balai Budaya, kompleks Balai Pemuda Surabaya, Minggu (27/9). Selain Asmujo, diskusi ini juga menghadirkan kurator lainnya yaitu Nirwan Dewanto, dengan moderator Kenny Hartanto dari Ubaya. 

Asmujo memaparkan, untuk memetakan posisi ARTSUBS dalam ekosistem seni rupa Indonesia, ARTJOG dan format biennale dapat digunakan sebagai tolok ukur perbandingan. ARTJOG sendiri telah mengalami transformasi dari format awalnya sebagai artist fair menuju sebuah institusi seni yang dalam penyelenggaraannya menyerupai museum temporer, dengan pameran berskala besar dan program publik yang berlangsung dalam periode tertentu.

Dalam konteks tersebut, ARTSUBS dapat dilihat sebagai bentuk hibridisasi antara karakter artist fair dan biennale. Di dalamnya bertemu beberapa kepentingan sekaligus: eksperimentasi artistik, pengalaman visual dan tontonan publik, serta kemungkinan terjadinya transaksi komersial. Dengan model semacam ini, ARTSUBS tidak sepenuhnya beroperasi sebagai art fair, tetapi juga tidak mengikuti format biennale secara konvensional. Karakter hibrida tersebut juga tercermin dalam proses kuratorialnya. 

Keragaman tersebut diperluas melalui keterlibatan berbagai disiplin kreatif di luar seni rupa murni. Arsitek, desainer, fotografer, dan praktisi dari bidang kreatif lainnya turut dilibatkan untuk memperluas kemungkinan artistik sekaligus menghadirkan pengalaman yang lebih beragam bagi publik. Pendekatan lintas disiplin ini menempatkan ARTSUBS bukan sekadar sebagai pameran karya seni rupa, melainkan sebagai ruang pertemuan berbagai praksis kreatif.

Proses kuratorial dalam pemilihan seniman melibatkan pertimbangan yang dilematis, di mana panitia harus menyaring sejumlah seniman mapan, mengakomodasi potensi seniman berkembang, serta menyeimbangkan tuntutan komersial pasar. Kondisi pasar seni rupa di Surabaya diidentifikasi belum berkembang secara optimal, sehingga penyelenggaraan pameran tetap memerlukan representasi pluralitas karya untuk merangkul berbagai spektrum seniman.

Apa yang disampaikan Asmujo ini merespon suara-suara yang mempertanyakan kriteria kuratorial. Ada yang memaknai Artsubs adalah Arts di Surabaya, sehingga seharusnya banyak melibatkan seniman-seniman Surabaya. 

Asmujo menampik pemahaman kata Subs adalah Surabaya. Bisa jadi nanti ada Artsubs di Malang misalnya. Bahkan, kalau toh Subs dimaknai Surabaya, tidak otomatis harus melibatkan banyak seniman Surabaya. Ini pameran nasional, pilihan seniman tidak didasarkan tempat tinggal seniman. Hal yang sama berlaku untuk Artjog, Artjakarta, Art & Bali, bahkan Biennale Venezia tanpa keterlibatan seniman dari Italia. 

Salah satu dilema lain yang dialami Asmujo selaku kurator adalah, dia suka dengan senimannya, tapi tidak suka karyanya. Tapi ada yang tidak suka senimannya, tapi karyanya layak dipilih. Hal yang disebut terakhir inilah yang diprioritaskan. Bagaimanapun piliha kurator memang subjekktif, tapi aspek objektivitas tetap dikedepankan.

Ditambahkan oleh Nirwan, “Seniman Surabaya itu siapa? Jangan hanya melihat nama-nama yang sudah dikenal lho. Ada beberapa nama seniman muda asal Surabaya yang belum terkenal namun terpilih di Artsubs.”

Nirwan menyontohkan Nana Yap dan Gabfriel Eva. Keduanya adalah seniman yang, menurut istilah Nirwan, “tidak berasal dari Pulau Balai Pemuda.” Berbeda dengan Yogya yang bisa disebut sebagai “desa besar” Surabaya ini terdiri dari pulau-pulau yang tidak saling terhubung. Selain Nana dan Eva, ada juga Benny Wicaksono, meskikali ini tidak ikut pameran, dia berasal dari “pulau yang lain.” Lantas, seniman asal Sidoarjo itu bisa disebut dari Surabaya gak?

Pilihan Surabaya sebagai lokasi penyelenggaraan juga berkaitan dengan potensi ekonomi kota tersebut. Sebagai salah satu pusat ekonomi penting di Indonesia, Surabaya memiliki basis masyarakat dan dunia usaha yang berpotensi menopang perkembangan ekosistem seni. Namun, potensi tersebut berhadapan dengan persoalan struktural berupa belum tersedianya infrastruktur seni permanen yang memadai, seperti museum seni rupa atau gedung pameran representatif dalam skala besar (MJ)

Posting Komentar

0Komentar

Terimakasih atas tanggapan dan komentar anda, kami team Redaksi akan menyaring komentar anda dalam waktu dekat guna kebijakan komonikasi untuk menghindari kata kata kurang pantas, sara, hoax, dan diskriminasi.
Dalam jangka waktu 1x24 jam segera kami balas
Kami tunggu saran dan kritikannya, salam !!!

Posting Komentar (0)