Kata ini secara literal berarti "kikir" atau "pelit". Orang yang memiliki sifat bakhil disebut "بَخِيل" (bakhil) dalam bentuk tunggal dan "بُخَلَاء" (bukhalā’) dalam bentuk jamak.
"Istilah kikir ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menahan hartanya dan tidak mau mengeluarkan untuk keperluan yang semestinya, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat.
Dalam syariah, kikir atau bakhil merujuk pada sifat seseorang yang sangat enggan mengeluarkan hartanya untuk keperluan-keperluan yang disyariatkan atau dianjurkan dalam agama, seperti sedekah, zakat, dan infaq. Ini adalah sifat yang menyebabkan seseorang menahan hartanya untuk berbagi, bahkan dalam keadaan yang sangat membutuhkan.
"Sifat bakhil ini tidak hanya terbatas pada menahan harta, tetapi juga mencakup sikap enggan berbagi dalam bentuk apapun, termasuk ilmu, tenaga, dan waktu.
Dalam al-qur’an QS. Al-Lail: 8-10:
وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ * وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ"
“Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar."
Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang kikir dan merasa dirinya tidak memerlukan bantuan serta mendustakan kebenaran akan dipermudah jalannya menuju kesulitan oleh Allah.
Ini menunjukkan bahwa sifat bakhil tidak hanya merugikan diri sendiri di dunia tetapi juga akan menghadapi kesulitan di akhirat.
"Seiring dengan firman Allah swt diatas , Allah juga menegaskan bahwa indikator lain dari sifat bakhil ( kikir) itu adalah; ia baru mau mengeluarkan sesuatu jika barang atau hal tersubut dinilai sesuatu yang buruk ( tidak berkualitas ), dan tidak diinginkannnya lagi. QS. Al-Baqarah: 267 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ"
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu (rezeqimu) yang baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memejamkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
Ayat ini mendorong kita orang beriman untuk menafkahkan harta yang baik dan melarang memilih yang buruk untuk diinfaqkan. Ini menekankan pentingnya kualitas dalam berbagi dan menunjukkan bahwa Allah tidak memerlukan harta manusia, tetapi manusia yang membutuhkan rahmat dan keberkahan dari Allah.
"Pada hakikatnya himbauan untuk membuang sifat kikir dalam kehidupan seseorang adalah ajakan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan mendekatkan dirinya kepada pencipta agar menemukan keberkahan hidup. Allah SWT. Didalam QS. Muhammad: 38:
“هَاأَنتُمْ هَٰؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنتُمُ الْفُقَرَاءُ"
“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (karunia-Nya)."
Ayat ini mengingatkan bahwa sifat kikir sebenarnya merugikan diri sendiri karena Allah adalah Maha Kaya dan tidak memerlukan harta manusia. Manusia yang sebenarnya dalam keadaan membutuhkan rahmat dan karunia dari Allah.SWT.
Hal senada diperkuat oleh Rasululllah SAW. Bahwa pada hakikatnya membuang sifat kikir akan menyelamatkan dirinya dari hal-hal negatif dan destruktif yang dapat mendatangkan kemudaratan yang bisa mengancam keselamatan jiwanya, sebagaimana dalam fenomena sosial yang banyak terjadi berujung pada pertumpahan darah antar sesama.
Dalam sebuah Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari ditegaskan :
إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ، فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ"
“Jauhilah sifat kikir, karena sifat itu telah membinasakan umat sebelum kalian. Sifat itu mendorong mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan yang haram."
Hadis ini menunjukkan bahwa sifat kikir dapat membawa kepada kehancuran dan perilaku yang melanggar norma-norma agama dan kemanusiaan, seperti pembunuhan dan perbuatan haram lainnya.
Sebaliknya dengan membuang sifat kikir dalam kehidupan akan mengantarkan seseorang pada keberkahan yang berkesudahan positif dalam wujud kebaikan dan kebahagiaan yang tak terhingga diakhirat kelak. Rasulullah Nabi kita dalam sebuah riwayat imam Muslim mengungkapkan :
مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ فِي الْجَنَّةِ: يَا عَبْدَ اللَّهِ، هَذَا خَيْرٌ"
“Barangsiapa menginfakkan dua pasang (harta) di jalan Allah, akan dipanggil di surga: 'Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan.'"
Hadis ini mengajarkan bahwa menginfakkan harta di jalan Allah akan mendapatkan balasan yang baik di surga, yang menunjukkan betapa besar pahala bagi orang yang dermawan dan sebaliknya, menekankan keburukan dari sifat kikir.
"Karena itu perilaku kikir atau bakhil adalah karakter buruk yang sangat tidak dianjurkan dalam Islam karena berdampak negatif baik pada individu maupun masyarakat. Islam mendorong umatnya untuk selalu berbagi dan dermawan, karena berbagi tidak hanya memberikan manfaat kepada penerima, tetapi juga menambah berkah bagi pemberi. Dengan memahami ajaran agama, meningkatkan keimanan, dan melatih diri untuk berbagi, seseorang dapat mengatasi sifat bakhil dan menjadi pribadi yang lebih baik dan diridhai oleh Allah SWT.
Orang kikir cenderung sulit mengeluarkan harta untuk keperluan yang diwajibkan oleh agama, seperti zakat dan sedekah.
Allah SWT . Telah berfirman dalam QS. At-Taubah : 75-76:
“وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ * فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضون"
“Dan di antara mereka ada orang yang berjanji kepada Allah: 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian dari karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh'. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memang orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)."
"Ciri-ciri orang kikir, sangat irit dalam membelanjakan uang untuk kebutuhan keluarganya, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan pendidikan. Padahal perbuatan tersebut jela-jelas merugikan orang dekatnya sendiri. Imam Abu Daud dalam sebuah Hadits Nabi meriwayatkan :
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَعُولُ" (HR. Abu Dawud)
“Cukuplah seseorang itu berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya."
Merasa Berat Hati dalam Mengeluarkan Uang
Setiap kali harus mengeluarkan uang, mereka merasa sangat berat hati dan tidak rela. Mereka cenderung selalu menghitung-hitung setiap pengeluaran dengan sangat cermat dan berlebihan.
“يَدُ اللَّهِ مَلْءَى لَا تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، أَرْبَعَةٌ لَا تُبَالِي مَتَى أَنْفَقْتَ: زَكَوَاتُهَا أَوْ صَدَقَاتُهَا."Artinya: "Tangan Allah penuh dan tidak akan berkurang dengan pengeluaran, baik siang maupun malam. Allah tidak akan memperhitungkan kapan kamu mengeluarkan (sedekah)." (HR. Muslim)Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "الْبَخِيلُ مِنْ يُخْرِجُ بَعْضَ مَا يَكْسِبُهُ مِنْ حَرَمَاتٍ وَفَرَائِضٍ."Artinya: "Orang yang kikir adalah orang yang tidak mau mengeluarkan sebagian dari apa yang dia miliki dalam hal-hal yang wajib dan yang dianjurkan." (HR. Bukhari)
"Mengabaikan Keperluan Sosial dan Kebajikan"
Orang kikir juga cenderung mengabaikan keperluan sosial dan tidak peduli terhadap program-program kebajikan seperti membantu fakir miskin, membangun fasilitas umum, atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial lainnya. Sifat individualisme dan egoisme lebih diperturutkan ketimbang sifat altruisme memprioritaskan kemaslahatan bersama
Dengan memahami ciri-ciri orang kikir ini, diharapkan kita dapat menghindari sifat tersebut dan menjadi lebih dermawan serta peduli terhadap sesama. Islam sangat menganjurkan untuk bersedekah, berzakat, dan membantu orang lain agar tercipta masyarakat yang sejahtera dan penuh dengan keberkahan.
Dengan menjauhi sifat kikir, seorang Muslim tidak hanya akan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan sosial dan harmoni dalam komunitasnya.
(Redaksi - MJ).


Terimakasih atas tanggapan dan komentar anda, kami team Redaksi akan menyaring komentar anda dalam waktu dekat guna kebijakan komonikasi untuk menghindari kata kata kurang pantas, sara, hoax, dan diskriminasi.
Dalam jangka waktu 1x24 jam segera kami balas
Kami tunggu saran dan kritikannya, salam !!!