Redaksi, MITRAJATIM.COM - Kerukunan persaudaraan bukanlah sesuatu yang lahir dari wacana besar atau seremoni. Namun tumbuh dari kesadaran diri serta ketulusan hati yang mengikat antara saudara satu dengan saudara lainya.
"Sumitro Hadi menuturkan bahwa; Persaudaraan itu bukan hanya dilihat dari ucapan, tetapi tindakan nyata antara saudara satu dengan saudara yang dituakan. Yang seharusnya wajib dilakukan secara konsisten, dimulai dari ruang paling sederhana, yaitu silaturahmi.
Senada dengan anjuran agama Islam, prinsip adab dan pitutur pinisepuh, hal yang wajib dijaga adalah kerukunan dan kebersamaan, membangun komunikasi yang hangat dan saling menghargai. Membiasakan diri untuk mendengar tanpa menghakimi, menyelesaikan persoalan dengan musyawarah, serta saling meminta maaf ketika berbuat salah adalah fondasi utama keharmonisan persaudaraan.
Seiring dengan datangnya hari kemenangan di Hari Lebaran ini, harusnya saling berjabat tangan dan saling memaafkan, bukan seremoni mengirim pesan melalui WhatsApp di media elektronik mengirim kabar untuk bermaaffan, walau itu baik. Kebaikan tidak dilihat dari ucapan, namun tindakan nyata.
“Kebiasaan yang baik dan luhur dimulai dari silaturahmi dalam keluarga; Orang tua, kakak adik dan anak. Saudara tertua merupakan sosok yang mengemban amanah pengganti orang tua, tempat awal membentuk karakter kepribadian yang luhur.
Pengakuan itu mudah, namun penerapanya yang sulit, saling menghormati itu hal yang wajib, demikian halnya silaturahmi itu juga wajib, bukan sekedar tradisi yang dilakukan secara seremoni, manusia itu pintar berkilah dan beralasan, menganggap dirinya paling benar, justru itu yang menyesatkan.
Sumitro menuturkan, "anak anak kita sejatinya adalah generasi penerus" kita didik dan kita arahkan yang benar sesuai dengan ajaran agama dan adab kemanusiaan.
Ia menjelaskan Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh empati dan kasih sayang, mereka belajar bahwa perbedaan bukanlah perselisian, melainkan kenyataan yang harus diterima dengan bijak maka disinilah nilai toleransi, kesabaran, dan kepedulian ditanamkan secara alami.
Sejatinya, menjaga kerukunan bukanlah tentang melakukan tindakan besar yang spektakuler. Tetapi hasil dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari dengan kesadaran dan ketulusan karena dari keluarga yang rukun akan lahir lingkungan yang damai, dan dari lingkungan yang damai akan tercipta masyarakat yang harmonis. (Redaksi -MJ)


Terimakasih atas tanggapan dan komentar anda, kami team Redaksi akan menyaring komentar anda dalam waktu dekat guna kebijakan komonikasi untuk menghindari kata kata kurang pantas, sara, hoax, dan diskriminasi.
Dalam jangka waktu 1x24 jam segera kami balas
Kami tunggu saran dan kritikannya, salam !!!