Sorotan Tajam di Balik Dugaan Pencabulan Mojokerto, Siapa yang Lindungi Pelaku?

PIMRED
Publiser ~
0
Mojokerto, MITRAJATIM.COM
 - Bunga (bukan nama sebenarnya), anak perempuan di bawah umur di wilayah utara Sungai Brantas, diduga menjadi korban tindak pidana pelecehan seksual (pencabulan) yang disinyalir dilakukan oleh seseorang berinisial SYT alias KBL. 
 
Kejadian itu tidak hanya menyisakan luka batin bagi korban, tetapi juga memunculkan indikasi adanya upaya penyelesaian di luar jalur hukum yang ditengarai melibatkan unsur perangkat desa setempat.
 
Peristiwa yang sempat menggegerkan warga ini, terjadi pada Sabtu, 18 April 2026 silam. Dalam kisah pilunya, korban yang kini berusia 15 tahun menceritakan bagaimana musibah tersebut bermula saat ia sedang berada di dalam kediaman kakeknya.
 
Terduga pelaku yang dikenal sebagai warga Dusun Clangap, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, diketahui masuk ke dalam rumah dengan alasan ingin meminjam pompa angin sepeda. "Awalnya orang itu datang, untuk pinjam pompa sepeda," ungkap Bunga saat dikonfirmasi awak media, Kamis (30/4/2026).
 
Namun, alasan pinjam-meminjam ini ditengarai hanyalah kedok semata, lantaran niat jahat pelaku langsung terungkap sesaat setelah ia berada di dalam ruangan. KBL disinyalir melakukan tindakan asusila dengan mencium bibir, meraba bagian tubuh sensitif, meremas payudara, serta melakukan perbuatan cabul lainnya terhadap korban.
 
Lebih mengejutkan lagi, perbuatan bejat itu diduga dilakukan tidak hanya satu kali, melainkan berulangkali, ketika pelaku bermaksud mengembalikan barang pinjaman tersebut.
 
Keesokan harinya, keluarga korban mendatangi kediaman pelaku untuk meminta penjelasan, namun situasi sempat memanas dan terjadi perselisihan. Masalah ini akhirnya dibawa ke rumah Ketua RT setempat untuk didamaikan. Dalam pertemuan itu, hadir sejumlah pihak mulai dari Ketua RT, Ketua RW, Kepala Dusun, hingga Babinsa.
 
Terduga pelaku diketahui hanya menyampaikan permohonan maaf dan menandatangani surat pernyataan pengakuan bersalah serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Ironisnya, surat keterangan ini disaksikan oleh pihak pengurus desa, tanpa melalui proses hukum yang jelas dan tegas.
 
Kasus itu akhirnya terungkap ke publik berkat informasi dari warga yang merasa prihatin. Masyarakat menyampaikan kekhawatirannya, bahwa jika pelaku dibiarkan dan perkara tersebut terindikasi ditutup-tutupi, dikhawatirkan pelaku akan mengulangi aksinya dan mengancam keselamatan anak-anak lain di lingkungannya. 
 
Warga yang merasa resah, menuntut agar aparat penegak hukum (APH) di wilayah Polsek Jetis, Polresta Mojokerto, hingga Polda Jawa Timur segera turun tangan mengusut tuntas masalah itu.
 
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi pihak kepolisian maupun klarifikasi membangun dari pemerintah desa terkait kebenaran dan tindak lanjut dalam kasus yang sangat meresahkan tersebut. 

Pewarta: Agung Ch

Posting Komentar

0Komentar

Terimakasih atas tanggapan dan komentar anda, kami team Redaksi akan menyaring komentar anda dalam waktu dekat guna kebijakan komonikasi untuk menghindari kata kata kurang pantas, sara, hoax, dan diskriminasi.
Dalam jangka waktu 1x24 jam segera kami balas
Kami tunggu saran dan kritikannya, salam !!!

Posting Komentar (0)