Penulis berharap, novel berlatar belakang budaya tersebut dapat memperkaya khasanah dunia kesusastraan di Indonesia. Novel ini berkisah tentang kehidupan warok dan gemblak di zaman dulu. “Sebagai karya fiksi, kisah dalam novel ini murni hasil imajinasi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan cerita hal itu hanyalah kebetulan semata,” tutur Sasetya Wilutama, mantan redaktur majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat dan Produser Creativ SCTV ini.
Alur ceritanya cukup berliku, tokoh-tokohnya unik, konflik dibangun sambung menyambung agar tidak membosankan. Ada bumbu percintaan dan kriminalitas. Inti ceritanya tentang seorang gemblak yang ingin menjadi guru, tetapi ternyata tidak mudah. Hambatan demi hambatan datang silih berganti. Kebetulan sang gemblak bertemu dengan oknum warok yang kurang baik. Selain itu, istri oknum warok itu justru jatuh cinta kepada sang gemblak. Ini yang membikin rumit.
Novel ini sengaja disajikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Maklum penulis memang sama-sama berlatar belakang jurnalis media cetak dan media televisi. Jadi tidak bisa seratus persen melepaskan gaya penulisan jurnalistik.
Penulis sangat menjunjung tinggi pelestarian budaya Indonesia yang luhur dan adiluhung. Penulis sangat menghormati warok yang sejatinya adalah seorang ksatria. Warok sangat dihormati sebagai tokoh panutan.
“Jadi kalau di dalam novel ini digambarkan ada oknum warok yang kurang baik, itu tidak dalam rangka mendegradasi derajat dan marwah warok. Sebagaimana profesi lain, semisal guru, dokter, atau profesi lainnya kadang ada oknum yang kurang baik. Jadi tidak boleh digebyah uyah,”ujarnya.
Menurut Imung Mulyanto, mantan GM Arek TV, cerita ini sebenarnya pernah diangkat dalam format sinetron oleh TVRI Jawa Timur pada awal tahun 1990-an dan disponsori Harian Sore Surabaya Post. Malah sempat masuk nominasi cerita terbaik dalam Festival Film Indonesia. “Tetapi oleh penulis, novel ini dipoles lebih bebas dan mendalam karena tidak terikat oleh durasi sebagaimana sebuah sinetron,” ujar mantan wartawan Surabaya Post ini..
Penerbit MejaTamu mengemas novel “Gemblak Terakhir” relatif tipis, hanya xii+82 halaman dengan ukuran 14 cm x 20 cm.
Memori Kolektif
Adriono, penyunting novel “Gemblak Terakhir” mengatakan, memori kolektif masyarakat memang dapat menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering bagi lahirnya sebuah karya sastra. Memori kolektif ini bisa dalam bentuk budaya masyarakat, kearifan lokal, legenda, dongeng, gugon tuhon, ataupun mitos. Semua harta karun itu dapat memberikan referensi, muatan falsafah, atau setidaknya memberi colour yang menarik dalam karya tulis.
Dengan memanfaatkan memori kolektif, membuat cerita fiksi dalam novel menjadi terasa nyata, tokoh-tokohnya tampak membumi, dan related dengan kehidupan dan alam pikiran pembaca. Banyak contoh karya sastra yang menggunakan latar budaya lokal. Di antaranya yang mashur adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, yang mengisahkan kehidupan penari ronggeng di tengah pusaran zaman. Ada lagi Para Priyayi karya Umar Kayam yang mengangkat kehidupan kaum priyayi di Jawa.
Lalu novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala (yang kemudian diangkat menjadi seri televise dengan Bintang Dian Sastrowardoyo) bertutur tentang adat Jawa Tengah dan industry rokok kretek. Tarian Bumi novel Oka Rusmini mempersoalkan tradisi kasta dan posisi perempuan dalam adat Bali yang kental.
Dunia film pun menggunakan “resep” yang sama. Contohnya film drama terbaru Reza Rahadian berjudul Pangku, juga menghadirkan kehidupan remang-remang warung kopi di kawasan Pantura dengan menyediakan perempuan yang boleh “dipangku”.
Novel berjudul “Gemblak Terakhir” karya Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama ini juga mengangkat memori kolektif masyarakat Jawa, terutama di kawasan Kabupaten Ponorogo dan sekitarnya, yang terkait dengan dunia warok dan gemblak.
Seperti diketahui warok adalah pemimpin lokal informal, pendekar yang disegani, dan biasanya memiliki kelompok kesenian reog. Sedangkan gemblak adalah anak laki-laki yang “dipelihara” secara khusus oleh seorang warok. Peran dan makna gemblak cukup kompleks, mencakup aspek seni pertunjukan, simbol status, hingga isu sosial dan spiritual yang kontroversial.
“Nah, salah satu keberhasilan novel ini adalah kehadiran budaya warok maupun fenomena gemblak tidak sekadar tempelan semata, tetapi benar-benar menyatu (blended) dengan inti cerita yang disuguhkan,” ujarnya.
Di dalam “Gemblak Terakhir,” ada problem relasi kuasa: tentang warok yang punya otoritatif sekaligus punya sumber daya ekonomi, berhadapan dengan rakyat miskin yang konstan terjepit ekonomi. Seorang janda terpaksa melepas anak laki-lakinya yang masih belia, saat “dipinang” untuk dijadikan gemblak sang warok.
Ada juga dilema wartawan yang harus menyampaikan fakta kepada khalayak tetapi dia harus melindungi teman sekolahnya yang ternyata mantan gemblak. Plus ada bumbu kriminalitas dan aksi adu kesaktian antarsesama warok, serta hubungan percintaan yang normal sekaligus yang abnormal.
Menurut Adriono, walhasil alur cerita dalam novel ini berliku dengan menarik. Cerita bergerak cepat, tidak berpanjang-panjang sastra, sehingga terjaga ritmenya. Ini bikin pembaca jadi kepo, lantas enggan meletakkan buku sebelum bertemu kata tamat. Gaya bahasanya yang populer dan ringan membuat buku ini enak dibaca. Nikmatnya serasa menyaksikan sinetron tv melalui kata-kata.
“Saya pribadi sangat menikmati novel ini pada saat melakukan penyuntingan naskah,” ujarnya.
Pewarta: Sumitro Hadi, SH.
Publiser : MITRAJATIM.COM


.jpeg)

Terimakasih atas tanggapan dan komentar anda, kami team Redaksi akan menyaring komentar anda dalam waktu dekat guna kebijakan komonikasi untuk menghindari kata kata kurang pantas, sara, hoax, dan diskriminasi.
Dalam jangka waktu 1x24 jam segera kami balas
Kami tunggu saran dan kritikannya, salam !!!