Sidoarjo, MITRAJATIM.COM - Kegembiraan masih terpancar di wajah Ustaz Air Langga Budi Prasetya, Lc, M.Pd, Kepala Sekolah SD Antawirya Islamic Javanese School. Pada hari Minggu, 11 Oktober 2026 lalu, SD Islam yang berlokasi di desa Junwangi kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo ini berhasil memecahkan rekor MURI.
Ditemui di kantornya, Selasa (27/10), Ustaz Air Langga mengatakan, rekor MURI yang dicapai SD Antawirya merupakan pencapaian tingkat dunia untuk kategori penulisan aksara Jawa terpanjang. Ditulis di bentangan kain sepanjang 600 meter melibatkan sekitar 600 peserta. Mulai dari siswa kelas 1 hingga kelas 6, para guru serta wali murid dan tamu.
Dilihat dari ketinggian, bentangan kain bertuliskan aksara Jawa (hanacaraka) itu tampak melingkar mengelilingi pendapa Giri Kedaton yang berada di areal sekolah seluas 2500 meter persegi tersebut. Seluruh peserta mengenakan busana tradisional Jawa, berupa baju lurik lengkap dengan blangkon bagi peserta pria. Dari 3000 orang tamu yang hadir, seluruhnya tampak antusias mengikuti penulisan aksara Jawa secara massal tersebut.
Sedangkan teks yang ditulis peserta dalam bentangan kain tersebut berupa ungkapan dan peribahasa yang mempunyai nilai filosofis tinggi, bersumber dari ajaran filosofi Jawa. Misalnya, becik ketitik ala ketara (perbuatan baik akan terlihat pada akhirnya, begitu juga perbuatan buruk akan ketahuan pada waktunya), adigang adigung adiguna (jangan bersikap sombong, takabur dan angkuh atas kelebihan yang dimiliki berupa kekuatan, jabatan atau harta), bathok bolu isi madu (seseorang yang tampilan fisiknya terlihat sederhana, bahkan seringkali dipandang rendah, tetapi sebenarnya menyimpan kecerdasan atau kelebihan yang luar biasa di dalam dirinya - low profile) .
Menurut Ustaz, penyelenggaraan acara ini merupakan manifestasi nyata dari komitmen sekolah dalam menjaga eksistensi budaya dan bahasa Jawa di tengah arus modernisasi. Bernaung di bawah Pesantren Modern “Al Amanah” Junwangi Krian Sidoarjo yang mengusung konsep budaya Jawa sebagai landasan pembentukan karakter.
“Pendiri pesantren (KH Nurcholis Misbah) memberikan mandat kepada kami untuk menjadikan sekolah ini sekolah berbasis islam dan budaya jawa. Oleh karena itu setelah penanaman tentang akidah, keimanan, ketaqwaan kemudian anak langsung dikenalkan budaya Jawa yang pada intinya adalah pembentukan karakter” ujarnya.
Ia menambahkan, pelestarian budaya Jawa ini sudah diterapkan kepada siswa sejak kelas 1 SD. Selain kurikulum pembelajaran bahasa Jawa, dalam pergaulan keseharian menerapkan unggah-ungguh (sopan santun & tata krama) dan sapaan dalam bahasa Jawa krama. Selain itu setiap hari Selasa, sekolah mewajibkan seluruh dewan guru dan murid mengenakan baju lurik. Hal ini sudah diterapkan sejak enam tahun lalu.
Sedangkan nama Antawirya merujuk pada nama kecil Pangeran Diponegoro, yakni Bendoro Raden Mas Ontowiryo. Selain dikenal sebagai pejuang dan pahlawan nasional, BRM Ontowiryo juga seorang santri dan negarawan yang luar biasa membela tanah air. “Nilai-nilai dan semangat perjuangan Raden Ontowiryo inilah yang akan kami tularkan pada para murid. Bukan hanya mencetak anak yang pandai menjawab soal ujian, namun juga anak yang mempunyai karakter baik, disiplin, tanggung jawab dan jujur” tambahnya.
Sebagai sekolah berakreditasi A, SD Antawirya Islamic Javanese School memadukan kurikulum Nasional, pesantren dan nilai-nilai Jawa, dengan menanamkan karakter luhur, kesantunan dan sopan santun yang mulai pudar di kalangan anak-anak jaman kini. (Sh - MJ)



Terimakasih atas tanggapan dan komentar anda, kami team Redaksi akan menyaring komentar anda dalam waktu dekat guna kebijakan komonikasi untuk menghindari kata kata kurang pantas, sara, hoax, dan diskriminasi.
Dalam jangka waktu 1x24 jam segera kami balas
Kami tunggu saran dan kritikannya, salam !!!