ASN Sibuk Rapat, "KerjaNya Bisa Terhambat"

PIMRED
Publiser ~
0

MITRAJATIM.COM
 - Menapaki perjalanan dinas bukan sekadar berpindah tempat, melainkan menjalankan amanah kedinasan yang memerlukan persiapan matang, akuntabilitas, dan profesional.

Kinerja dinas atau instansi pemerintah yang terlalu sering mengadakan rapat berimbas negatif pada produktivitas, efisiensi, dan efektivitas pelayanan publik, pada akhirnya tertunda.

"Budaya rapat berlebihan (meeting overload) sering kali menjadi kedok untuk terlihat sibuk padahal minim hasil konkret.

Dampak utama dari kinerja dinas yang sering rapat:
  • Pekerjaan Utama Terbengkalai: ASN yang terlalu banyak mengikuti rapat sering kesulitan menyelesaikan tugas teknis dan administratif, yang pada akhirnya menunda pekerjaan inti.
  • Penurunan Produktivitas: Studi menunjukkan bahwa rapat berlebihan menurunkan efektivitas kerja, membuat staf tidak produktif karena waktu habis untuk diskusi tanpa eksekusi.
  • Pemborosan Anggaran Negara: Rapat rutin,  membuang-buang uang negara (anggaran perjalanan dinas/rapat) yang seharusnya bisa dialokasikan untuk program kerja yang lebih penting.
  • Kelelahan Fisik dan Mental (Burnout): Jadwal rapat yang padat menguras energi tim, meningkatkan stres, dan memicu kelelahan mental, sehingga fokus dan kreativitas menurun.
  • Pelayanan Publik Lambat: Fokus yang terpecah antara rapat dan pelayanan langsung membuat kinerja pelayanan publik dinas tersebut menurun cendrung mendapat sorotan.
  • Keputusan Tidak Efektif: Rapat yang terlalu sering dan tidak efektif sering kali tidak menghasilkan keputusan yang substantif, hanya membahas hal-hal yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui komunikasi singkat atau grup kerja. 
  • Kesimpulan: Rapat yang terlalu sering (terutama yang tidak substantif) merupakan indikator inefisiensi birokrasi yang menghambat pada eksekusi program pemerintah dan merugikan publik.
Dalam banyak instansi pemerintah, rapat telah menjadi bagian dari rutinitas yang dianggap “wajar” dan bahkan identik dengan kinerja.

Banyak ASN merasa bahwa rapat adalah simbol keseriusan bekerja bahwa hadir dalam rapat berarti menunjukkan kontribusi. Namun, seiring berkembangnya kebutuhan pelayanan publik yang menuntut kecepatan, efisiensi, dan hasil konkret, budaya rapat yang terlalu sering justru sering kali membuat pekerjaan utama terbengkalai.

"Tidak sedikit ASN yang menghabiskan sebagian besar jam kerja untuk menghadiri rapat, berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, dan akhirnya tidak memiliki waktu cukup untuk menyelesaikan tugas individual yang menjadi indikator utama kinerja mereka.

Fenomena ASN yang sibuk rapat namun kerja substansial tertunda telah menjadi keluhan umum di berbagai lembaga. Banyak pegawai mengaku lelah dengan rutinitas rapat maraton yang berlangsung hampir setiap hari. 

Jika sering kali membahas hal-hal yang sebenarnya bisa terselesaikan lewat koordinasi singkat, memo, atau pertemuan online berjadwal, mengapa budaya rapat yang berlebihan terus terjadi, bagaimana dampaknya terhadap produktivitas ASN, dan apa langkah realistis yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya.

Represtasi kerja, Paradikma yang salah kaprah.Salah satu akar permasalahan adalah paradigma usang yang mengidentikkan rapat dengan kerja.

Dalam beberapa instansi, rapat bahkan diperlakukan sebagai bentuk aktivitas yang paling terlihat, pimpinan merasa penting untuk “mengundang semua orang” agar terlihat solid dan kompak dalam mengambil keputusan. Akibatnya, banyak ASN hadir dalam rapat tanpa memiliki peran yang jelas. (Red- MJ)

Posting Komentar

0Komentar

Terimakasih atas tanggapan dan komentar anda, kami team Redaksi akan menyaring komentar anda dalam waktu dekat guna kebijakan komonikasi untuk menghindari kata kata kurang pantas, sara, hoax, dan diskriminasi.
Dalam jangka waktu 1x24 jam segera kami balas
Kami tunggu saran dan kritikannya, salam !!!

Posting Komentar (0)