Senajan Ono Cobo, Tetepo Semangat Dulur "Nguri-uri Warisan Leluhur"

PIMRED
Publiser ~
0

Gresik, MITRAJATIM.COM - Pemahaman Nguri-uri leluhur adalah upaya merawat, menjagadan melestarikan warisan budaya serta nilai-nilai luhur dari nenek moyang. Tujuannya agar kearifan lokal tersebut tidak punah tergerus zaman dan tetap memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat masa kini.

"Sosok Jurnalis senior yang akrab dipanggil Maman Mit, terpaksa turut angkat bicara, walau sudah puluhan tahun Hijrah ke kota lain. Ia menuturkan bahwa desa Tenaru merupakan tempat Maman Mit dilahirkan dan dibesarkan, ia (Maman Mit) paham betul kultur serta karakter masyarakatnya.

Ia mengakui, walau sudah hijrah, ia sering pulang kampung, menengok adik dan keluarga di Tenaru. Ia tidak bisa melupakan teman-teman bermain dimasa kecilnya dulu, ia pernah merasakan suka duka bersama, dan tau persis kultur dan karakter masyarakatnya.

"Senada dengan hal tersebut, ada beberapa orang bergrilia memberikan pemahaman berbeda bahwa itu perbuatan musyrik maupun syirik. Pemahaman yang seperti itu merupakan paham yang kliru. Kami tidak menyembah, kami menjaga dan menghormati peninggalan sejarah leluhur.," tutur Pak Mistono

Dalam kehidupan di masyarakat perbedaan pendapat pro dan kontra itu biasa, namun jangan sampai saling fitnah untuk menjatuhkan, Viralnya pemberitaan di medsos saat kegiatan Nguri-uri leluhur dan pagelaran budaya di Sunur     Grde desa Tenaru, banyak tanggapan beragam pemirsa ke Redaksi MITRAJATIM.COM 

Ada sejumlah warga yang komplain (protes) melalui via WhatsApp dan via telpon seluler ke Redaksi kami, stuju dan tidak itu terserah masyarakat yang menilai, dengan nada tidak elok penelpon ber inisial K, A dan ada beberapa yang tidak berkenan menyebut nama, tetap kami respon dan memberi pengertian.

Seiring dengan permasalahan tersebut perlu kita intropeksi untuk meng evaluasi pendapat dan perkataan yang kliru, paguyuban itu sudah cukup baik, degan tujuan yan baik dan mulia, sama halnya saya dulu, dihujat, dicemooh, diolok-olok dan dihujat ngowoosz, saya tetap tabah menerimanya, saya bertekat dan berjuang sendiri.

Filosofi menjelaskan; orang itu tanpa salah tak akan jadi benar, tanpa sekolah tidak mungkin jadi pintar kecuali Rosululloh.

Nilai Filosofis: Menerapkan prinsip hidup, guyub rukun, sopan santun, serta membangun kerukunan dan gotong royong yang diwariskan oleh para pendahulu kita.

Hal ini menjadi wujud penghormatan, rasa syukur atas kehidupan, dan memelihara kearifan lokal agar tidak punah oleh pemahaman yang kliru..

Mengajak masyarakat untuk tidak fanatik pada mazhab tertentu. Boleh mengambil pendapat mazhab, tetapi tetap harus ingat, tanpa sesepuh pendahulu, maka tidak ada kita.

Sing fanatik ora nggone mazhab tapi nggone agama. Nek perkara-perkara kilafiyah wes ora usah didebat-debatna. Apa maneh sampai ndadekna perpecahan.” Pungkas Maman Mit. (Sumitro Hadi -MJ)

Posting Komentar

0Komentar

Terimakasih atas tanggapan dan komentar anda, kami team Redaksi akan menyaring komentar anda dalam waktu dekat guna kebijakan komonikasi untuk menghindari kata kata kurang pantas, sara, hoax, dan diskriminasi.
Dalam jangka waktu 1x24 jam segera kami balas
Kami tunggu saran dan kritikannya, salam !!!

Posting Komentar (0)